YOGYAKARTA, DELIK ANTARA.COM – Kemenangan tidak pernah datang kebetulan. Di balik skor akhir ada kerja taktis, evaluasi jeli, dan energi dukungan yang tak terlihat di papan skor. Hal itu ditegaskan Coach Muhammad Azhar dalam wawancara eksklusif bersama Tim Jurnalis DelikAntara.com usai laga tim Sultra di Yogyakarta. Minggu (31/5/2026).
Dengan nada bersyukur, ia memuji anak asuhnya yang tampil dominan dan mampu memaksimalkan peluang menjadi gol.
“Alhamdulillah anak-anak bermain sangat baik. Bisa memaksimalkan peluang gol. Walau begitu banyak peluang, hanya 4 yang bisa dimaksimalkan jadi 2 gol,” ujar Coach Azhar.
Ia menyoroti bahwa 2 gol yang tercipta memiliki pola sama persis seperti saat latihan. Menurutnya, tim sebenarnya punya potensi unggul lebih dari 3 gol jika seluruh peluang bisa dikonversi.
Salah satu filosofi latihan Coach Azhar yang ia beberkan adalah pembagian permainan ke dalam 4 momen sepakbola: transisi menyerang, transisi bertahan, fase menyerang, dan fase bertahan, termasuk setplay.
“Kami selalu melatih 4 momen dalam sepakbola. Ya termasuk setplay. Apakah itu corner, setpiece dan lemparan ke dalam,” jelasnya.
Pendekatan ini membuat Sultra tidak hanya unggul dalam penguasaan bola, tetapi juga mematikan di situasi bola mati. Corner, free kick, hingga throw-in panjang menjadi senjata tambahan tim.
Saat ditanya soal keputusan mengganti pemain di sayap dan gelandang, Coach Azhar menyebut itu murni strategi menjaga hasil.
“Lebih ke menjaga kemenangan. Dan pergantian pemain di posisi sayap dan gelandang, ada tenaga baru dan sedikit merubah pergerakan saja,” katanya.
Ia menambahkan, Sultra punya kedalaman skuad. Pemain di posisi lain juga berkualitas sehingga rotasi tidak menurunkan intensitas permainan.
“Lebih ke menjaga dan lebih memaksimalkan pemain di posisi yang lain. Kita punya beberapa pemain berkualitas lainnya di posisi yang sama,” tambahnya.
Soal insiden bola mengenai tangan pemain Sultra di kotak penalti, Coach Azhar legowo menerima keputusan wasit.
“Bola mengenai tangan pemain kami, mungkin ke depannya lebih berhati-hati di box area penalty. Saya lihat wasit sangat jeli juga di sini. Dan keputusannya tepat,” ucapnya.
Ini menjadi catatan evaluasi internal: disiplin posisi tangan saat bertahan di area 16 meter harus ditingkatkan agar tidak merugikan tim.
Menatap laga berikutnya, Coach Azhar menargetkan anak asuhnya kembali tampil dominan dan mengambil 3 poin untuk memastikan tiket ke putaran selanjutnya.
“Berharap anak-anak kembali dominan bermain, ini panggung mereka. Saya harap mereka tetap confident dan mengambil 3 poin agar bisa memastikan lolos ke putaran selanjutnya,” tegasnya.
Yang membuat Coach Azhar terharu adalah dukungan supporter. Bermain jauh dari rumah, Sultra tetap merasa “kandang” karena Laskar Anoa hadir di sisi lapangan.
“Merasa bersyukur walau bermain di Yogyakarta, ada Laskar Anoa di sisi kami saat pertandingan. Kami minta selalu dukung kami dalam kondisi apapun. Karena doa dan dukungan mereka lah harapan kami ke depannya,” ujarnya haru.
Ia menutup wawancara dengan ucapan terima kasih untuk seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara.
“Terima kasih Sulawesi Tenggara,” tutup Coach Azhar.
Secara taktis, konsep “4 momen” yang diterapkan Coach Azhar adalah adaptasi dari Johan Cruyff dan Pep Guardiola. Tim modern harus siap menyerang, bertahan, dan dua fase transisi. Sultra di bawah Azhar tidak hanya main cantik, tapi juga efektif.
Secara psikologis, menyebut “ini panggung mereka” adalah bentuk player empowerment. Pelatih memberi kepercayaan penuh, sehingga pemain tumbuh confident dan berani ambil keputusan di lapangan.
Dukungan Laskar Anoa juga punya efek home advantage psikologis. Studi sport psychology menyebut supporter bisa meningkatkan performa atlet 5-15% lewat dopamin dan adrenalin kolektif.
DelikAntara.com mendukung penuh perjuangan Tim Sultra di pentas nasional. Kemenangan bukan hanya soal skor, tapi soal proses, disiplin taktik, dan kebersamaan dengan supporter.
Mari kita doakan dan dukung terus Coach Muhammad Azhar serta anak-anak Sultra hingga lolos ke putaran selanjutnya. #SultraBisa
Laporan: Aby Razak















