Mentan Amran Sindir Tajam Mendagri Tito Soal Mafia Pangan: Noordin M Top Saja Bapak Tangkap, Masa Mafia Depan Mata Tak Bisa Ditangkap!

banner 120x600

JAKARTA, DELIKANTARA.COM – Menteri Pertanian Mentan Andi Amran Sulaiman melontarkan sindiran tajam kepada Menteri Dalam Negeri Mendagri Tito Karnavian terkait mafia pangan yang tak kunjung diberantas.

Amran mengkritik penindakan hukum terhadap mafia pangan yang dinilai tidak maksimal dan hanya menyentuh permukaan. Ia pun membandingkan tingkat kesulitan menangkap buronan terorisme kelas kakap dengan membongkar praktik kotor spekulan pangan yang ada di depan mata.

“Noordin M Top saja Bapak tangkap, ini masa yang di depan mata tidak bisa ditangkap,” kata Amran dalam rapat koordinasi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin 12/10/2026.

Untuk diketahui, Noordin M Top adalah teroris asal Malaysia yang menjadi dalang Bom Bali 2002 dan 2005, pengeboman Hotel JW Marriott Jakarta 2003, Kedubes Australia 2004, JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta 2009. Dia merupakan pimpinan utama, penyandang dana serta perencana bom dalam jaringan militan Jemaah Islamiyah JI. Noordin M Top tewas ditembak Densus 88 dalam operasi yang dipimpin Tito Karnavian pada 17 September 2009 saat Tito masih menjabat Kapolda Metro Jaya.

Amran menilai rentetan rapat koordinasi birokrasi tidak akan berdampak nyata apabila mafia pangan tetap dibiarkan bebas bergerak mempermainkan harga pasar.

Menurutnya, masalah pasokan dan harga pangan nasional saat ini hanya dimonopoli oleh segelintir kelompok korporasi besar.

“Kita rapat setengah mati di sini, dia main di luar. Kalau kita tidak bicara blak-blakan ya habis kita,” ujar Amran dengan nada tinggi.

Ia menambahkan bahwa sikap kompromistis terhadap pelaku kejahatan ekonomi pangan justru membuat masyarakat serta petani dan peternak lokal menderita. Di sisi lain, para spekulan justru menikmati keuntungan fantastis.

“Yang kuasai cuma 2 orang, yang kuasai cuma 5 orang. Jadi kita ribut di sini, dia pesta pora,” imbuh Amran.

Tak hanya itu, Mentan menyoroti kelemahan jerat hukum yang selama ini dinilainya belum menyentuh pemilik modal atau beneficial owner dari korporasi pelaku penipuan pangan. Hukuman yang hanya menyasar jajaran direksi dinilai tidak akan pernah menghentikan kejahatan yang sama.

“Owner-nya tidak masuk, enggak kena. Ya ganti direksi aja,” tegas Amran.

Amran menegaskan, selama beneficial owner tidak masuk penjara, mafia pangan akan terus lahir dengan baju baru. Ganti direksi, ganti PT, tapi pemilik modal tetap sama dan terus berpesta pora di atas penderitaan rakyat.

Menanggapi sindiran tajam tersebut, Mendagri Tito Karnavian tidak terpancing emosi. Ia mengingatkan bahwa Kementan dan Polri pernah berkolaborasi membongkar kartel perberasan pada 2017 saat dirinya masih memimpin Korps Bhayangkara sebagai Kapolri.

Termasuk saat penggerebekan gudang beras bermasalah PT IBU, yang dinilai terbukti memberi dampak jera saat itu dan membuat harga beras stabil.

“Iya pernah kita sama-sama tangkap dulu,” ucap Tito singkat menanggapi Amran.

Dengan demikian, fakta dibalik intelektual menunjukkan adanya kegelisahan mendalam di level menteri soal mafia pangan. Sindiran Amran kepada Tito bukan sekadar debat kusir, tapi tamparan keras bagi penegakan hukum pangan nasional yang dinilai tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Publik kini menanti, apakah setelah sindiran Noordin M Top ini, Densus 88 gaya baru akan dibentuk khusus untuk memburu mafia pangan hingga ke owner-nya.

 

Laporan: Redaksi

banner 325x300 banner 1600x450

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *