KONAWE, DELIK ANTARA.COM – Reses masa sidang Ketua Dewan Perwakilan Rakyta Daerah (DPRD) Kabupaten Konawe, I Made Asmaya, S.Pd., M.M, di Desa Kumapo, Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Selasa (2/6/2026), berbuah komitmen konkret. Dua aspirasi krusial warga langsung mendapat atensi dan janji pengawalan dari pimpinan lembaga legislatif Konawe tersebut.
Dalam forum dialog yang digelar di Balai Desa Kumapo, masyarakat menyampaikan dua kebutuhan prioritas yang selama ini dinanti:
1. Pembangunan Sumur Bor Air Bersih
Warga mengeluhkan keterbatasan akses air bersih, terutama saat musim kemarau. Pembangunan satu titik sumur bor ditaksir membutuhkan anggaran Rp200.000.000. Fasilitas ini diharapkan melayani 147 kepala keluarga di Dusun I dan Dusun II.
2. Pembangunan Kanopi Masjid Nurul Iman Desa Kumapo
Masjid utama desa belum memiliki kanopi permanen di halaman depan. Jamaah kerap kehujanan saat salat Jumat dan kegiatan TPA. Kekurangan anggaran untuk merampungkan kanopi ditaksir Rp50.000.000.

Menanggapi hal itu, I Made Asmaya menegaskan keberpihakannya pada kebutuhan dasar dan sarana ibadah. Ia meminta Pemerintah Desa Kumapo tidak menunda administrasi.
“Untuk kanopi masjid, saya minta sebelum paripurna reses sudah ada proposal bantuan masjid yang masuk ke Sekretariat DPRD. Saya menuliskan pengabdian saya untuk keluarga besar saya di Kumapo. Saya sangat peduli dengan pembangunan masjid,” tegas I Made Asmaya di hadapan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga.
Pimpinan DPRD Konawe itu menargetkan waktu penyelesaian yang jelas. “Amanah yang diberikan kepada saya pasti akan saya jalankan. Kekurangan anggaran sekitar Rp50 juta untuk pembangunan kanopi masjid akan kita tuntaskan. Insyaallah pada Idulfitri mendatang jamaah sudah bisa menggunakannya, tidak kehujanan lagi,” ujarnya disambut takbir warga.
Terkait sumur bor, I Made Asmaya menekankan skala prioritas. “Untuk sumur bor, kebutuhan anggarannya sekitar Rp200 juta. Ini soal hajat hidup orang banyak. Saya minta proposal teknis dan RAB-nya segera dimasukkan agar bisa kita dorong di pembahasan APBD Perubahan atau APBD 2027. Prinsipnya, secepatnya kita tindak lanjuti,” tambahnya.

Di penghujung reses, I Made Asmaya menitipkan pesan kolaborasi. “Saya berharap mari kita jaga hubungan kita bersama. Semoga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dapat kita perjuangkan dan realisasikan secara bertahap. Kuncinya ada di komunikasi dan administrasi yang tertib,” tutupnya.
Reses di Kumapo sore itu ditutup dengan jabat tangan dan komitmen. Ini bukan sekadar pertemuan politik. Ini kontrak sosial: warga memberi amanah lewat suara, wakil rakyat membayar dengan kerja nyata.
Setetes air bersih dari sumur bor Rp200 juta kelak, dan seteduh kanopi masjid Rp50 juta nanti, adalah tolok ukur sederhana: apakah suara warga Onembute benar-benar menembus ruang rapat DPRD Konawe.
Realisasi bergantung pada tiga poros: 1) Kecepatan Pemdes Kumapo menyerahkan proposal lengkap dengan RAB dan titik koordinat, 2) Keberpihakan politik anggaran DPRD dalam Pokir, 3) Pengawasan publik agar tidak ada markup dan penyelewengan.

DelikAntara.com tidak akan berhenti pada pemberitaan seremoni. Kami akan kembali ke Kumapo pada dua momentum: saat air pertama memancar dari sumur bor, dan saat anak-anak TPA mengaji di bawah kanopi baru.
Karena jurnalisme yang bertanggung jawab adalah jurnalisme yang mengawal janji hingga menjadi manfaat.
Kepada warga Kumapo: kekuatan kalian ada di musyawarah desa. Pastikan proposal dikawal, pastikan pembangunan diawasi. Sebab pembangunan terbaik tidak lahir dari gedung dewan, tapi dari desa yang warganya melek anggaran.
Laporan: Aby Razak















