Diksar XXVII Tamalaki Pobende Wonua: 67 Kader Baru Lahir Dari Routa ke Atowatu

banner 120x600

KONAWE, DELIK ANTARA.COM – Di saat dunia berlomba mengejar modernitas, ada 67 anak muda Tolaki yang memilih kembali ke akar. Kamis, (4/6/2026), Desa Atowatu, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi panggung sejarah.

Tamalaki Pobende Wonua Sultra menutup Diksar XXVII dengan melantik 49 Tamalaki dan 18 Tina Pobende. Mereka bukan sekadar anggota baru, tapi pewaris sah marwah, adat, dan tanah ulayat suku Tolaki.

Dipimpin langsung Ketua Umum, Ahmad Oleo, atau yang mewakili Wakil Ketua Umum Tamalaki Pobende Wonua Sultra, Muhamad Al Baim, dan Wakil Ketua Umum II, Aguslin Gusu, Sekaligus bersama Dewan Pengurus Pusat H. Abd Razak SH, Sanib Sos, Arman Silondae, dan para pengurus lainnya menunjukkan keseriusan Tamalaki Pobende Wonua dalam regenerasi.

Kegiatan kaderisasi ini menegaskan: adat tidak akan mati selama ada generasi yang mau disumpah.

Pernyataan Resmi Sekretaris DPP, Edho:

“Jumlah keseluruhan anggota kader-kader yang sukses tergabung yaitu 67, baik Tamalaki maupun Tina Pobende. Untuk Tina Pobende 18 orang sementara Tamalaki 49 orang.”

Angka 67 adalah simbol: perjuangan adat bukan kerja satu orang, tapi kerja kolektif.

Yang membuat Diksar XXVII mengguncang adalah kehadiran Pak Ahmad, Ketua Tamalaki Pobende Wonua DPC Kecamatan Routa sekaligus salah satu pemangku tokoh adat yang dituakan di wilayah Routa.

Kehadiran Pak Ahmad memotong jarak geografis dan psikologis antara Rota yang terisolasi dengan pusat organisasi di Konawe. Ia datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai simbol bahwa suara Rota didengar, luka Rota diakui, dan perjuangan Rota disatukan.

Dalam diskusi informal di sela Diksar, Pak Ahmad menegaskan alasan bergabung:

“Saya timbang-timbang. Yang berat adalah Pobende Wonua. Persatuannya saya lihat memang kuat, baik dalam mempertahankan hak-haknya. Saya masuk murni hati nurani untuk meneruskan adat istiadat kita Tolaki di Kecamatan Routa.”

Kehadiran Pak Ahmad sekaligus membawa 4 luka Rota ke ruang Diksar: jauh dan terisolasi, warga terintimidasi, janji perusahaan ingkar, dan kriminalisasi warga yang bela tanah ulayat. Diksar XXVII menjawabnya dengan satu kata: Medulu Mepokoaso – Bersatu.

Diksar XXVII harus dibaca sebagai 3 investasi strategis:

1. Investasi Identitas

Di era globalisasi, banyak pemuda malu berbahasa daerah. Diksar ini adalah “vaksin identitas”. Menjadi Tamalaki/Tina Pobende adalah cara terhormat bilang: “Saya orang Tolaki dan saya bangga.”

2. Investasi Sosial

67 kader ini akan turun ke desa-desa. Mereka jadi mediator konflik, penjaga ritual, penggerak gotong royong. Negara hadir lewat birokrasi, Tamalaki hadir lewat hati dan adat.

3. Investasi Politik Kebudayaan

Kehadiran DPP lengkap: H Abd Razak SH, Sanib Sos, Arman Silondae, menunjukkan Tamalaki Pobende Wonua bukan ormas pinggiran. Ini kekuatan politik budaya yang akan duduk setara saat bicara soal tanah ulayat, investasi, dan kebijakan daerah.

Makna Lokasi Atowatu Soropia:

Soropia adalah gerbang laut Konawe. Memilih Atowatu berarti Tamalaki ingin menegaskan: adat Tolaki tidak hanya di pegunungan, tapi juga di pesisir. Dari laut sampai gunung, marwah dijaga. Kehadiran Pak Ahmad dari Routa pegunungan menegaskan pesan itu: dari Rota sampai Soropia, adat satu.

Gerakan Tamalaki Pobende Wonua berdiri di atas 4 payung hukum nasional:

1. UUD 1945 Pasal 32 ayat 1

Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

2. UUD 1945 Pasal 18B ayat 2

Negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat.

3. UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Pasal 5 dan 7

Negara wajib melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan. Diksar XXVII adalah bentuk pembinaan oleh masyarakat untuk masyarakat.

4. UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 96

Desa adat berhak mengatur dan mengurus urusan adat istiadat. Kader Tamalaki/Tina Pobende adalah ujung tombak desa adat.

Kaderisasi ini tidak anti-modernisasi. Kaderisasi ini adalah jembatan agar modernisasi tidak menelan jati diri.

DelikAntara.com berpegang pada: Kode Etik Jurnalistik Pasal 3 akurasi dan keberimbangan, Pasal 7 penghormatan adat dan privasi ritual sakral, UU Pers No 40/1999. Detail ritual sakral tidak dipublikasikan untuk menjaga kesakralan.

Di tengah berita konflik dan kriminal, hari ini kita dapat kabar baik: ada 67 anak muda yang memilih jadi penjaga, bukan perusak.

Kepada 67 kader baru: selamat. Kalian sekarang bukan “anak muda biasa”. Kalian adalah perpustakaan hidup, penjaga bahasa, dan benteng terakhir jika ada yang coba injak marwah Tolaki.

Kepada Muhamad Al Baim dan seluruh DPP: terima kasih sudah mau capek-capek kaderkan generasi. Hasil kerja kalian akan panen 20 tahun lagi, saat Sultra dipimpin oleh orang-orang yang paham adat.

Kepada Pak Ahmad dan warga Routa: jarak jauh tidak boleh jadi alasan adat terabaikan. Suara Routa sudah sampai ke Atowatu.

Kepada para Ketua DPC Se-Sulawesi Tenggara: Kehadiran Kalian serta usaha dalam merekrut anggota baru Patut diapresiasi karena Oramas yang Besar tidak akan perna terhitung tanpa usaha dan kehadiran Para Ketuanya.

Kepada kita semua: dukung mereka. Hadiri acara adat mereka. Ajari anak kita bahasa Tolaki. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat leluhurnya.

DelikAntara.com akan terus kawal kiprah 67 kader ini. Kirim kegiatan positif adat ke:

Email: redaksi@delikantara.com

Subjek: #KiprahTamalaki

 

Reporter: Tim Jurnalis Budaya DelikAntara.com Sultra

Editor: Redaktur DelikAntara.com

banner 1600x458 banner 325x300 banner 1600x450

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *