81 Tahun Proklamasi Polisi, Jenderal Sigit Tegaskan Polri Harus Hadir Melayani, Melindungi, dan Mengayomi Rakyat

banner 120x600

SURABAYA, DELIK ANTARA.COM – Di tempat yang sama 81 tahun lalu Proklamasi Polisi dikumandangkan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berdiri sebagai Inspektur Upacara.

Jumat 21/8/2026, di Monumen Polisi Istimewa Surabaya, Kapolri memimpin Upacara Hari Juang Polri 2026 dengan pesan tegas: semangat 1945 harus hidup kembali dalam wujud pengabdian, pelayanan, dan pengayoman kepada masyarakat.

Upacara ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pengingat bahwa Bhayangkara lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan.

Upacara Hari Juang Polri Tahun 2026 berlangsung khidmat mulai pukul 08.00 WIB.

Hadir 203 tamu undangan dari berbagai unsur. Mulai dari pejabat Mabes Polri, Forkopimda Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, tokoh agama dan masyarakat, mahasiswa, akademisi, veteran, hingga keluarga besar Polri.

Pemilihan Surabaya bukan kebetulan. Tanggal 21 Agustus dipilih karena bertepatan dengan peristiwa bersejarah Proklamasi Polisi yang dikumandangkan di kota ini pada 21 Agustus 1945.

Sejarah mencatat, satu hari sebelum proklamasi dibacakan, tepatnya 20 Agustus 1945, Iptu Muhammad Jasin bersama anggota Polisi Istimewa Surabaya menyepakati pernyataan kesetiaan kepada Negara Republik Indonesia. Mereka juga menyusun naskah Proklamasi Polisi.

Keesokan harinya, 21 Agustus 1945, di Markas Polisi Istimewa Surabaya, Muhammad Jasin memimpin apel dan membacakan Proklamasi Polisi di hadapan seluruh anggotanya.

Proklamasi itu bukan hanya pernyataan setia. Itu adalah deklarasi perang. Polisi Istimewa Surabaya menyatakan tekad berjuang bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bukti nyata: melucuti persenjataan Jepang, menyalurkan senjata ke badan-badan perjuangan, hingga melakukan perlawanan terhadap Sekutu.

Dalam rangkaian upacara, Jenderal Sigit selaku Inspektur Upacara memimpin mengheningkan cipta. Selanjutnya beliau membacakan kembali Naskah Proklamasi Polisi.

Pembacaan naskah 81 tahun lalu itu menggema sebagai pengingat. Semangat para pendahulu harus diwarisi dan diterjemahkan sesuai tantangan zaman.

Dalam amanatnya, Kapolri menarik benang merah masa lalu dan masa kini.

“Jika pada masa awal kemerdekaan perjuangan Polri diarahkan untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, maka saat ini semangat yang sama diwujudkan melalui upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Jenderal Sigit.

Menurutnya, stabilitas keamanan adalah fondasi pembangunan. Tanpa rasa aman, aktivitas ekonomi lumpuh. Tanpa ketertiban, investasi enggan masuk.

“Karena itu, setiap pelaksanaan tugas Polri memiliki peran strategis dalam menciptakan rasa aman, menjaga aktivitas masyarakat tetap berjalan, serta mendukung terciptanya iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa,” tegasnya.

Jenderal Sigit menyebut Hari Juang Polri sebagai momentum refleksi institusi.

“Momentum Hari Juang Polri sekaligus menjadi refleksi bagi seluruh personel untuk terus menjaga nilai keberanian, pengabdian, loyalitas, integritas, serta semangat pantang menyerah yang diwariskan para pendahulu. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi Polri untuk menjawab berbagai tantangan tugas yang semakin kompleks sekaligus memenuhi harapan masyarakat terhadap pelayanan Kepolisian yang semakin baik,” ujar Kapolri.

Dia menekankan, semangat berjuang bersama rakyat yang ditunjukkan Polisi Istimewa Surabaya masih relevan. Kemajuan bangsa butuh persatuan, stabilitas, dan sinergi.

“Dalam konteks tersebut, Polri terus mengambil bagian dengan menjaga keamanan, membangun kedekatan dengan masyarakat, dan memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Jenderal Sigit.

Dengan Peringatan di Kota Pahlawan ini menegaskan satu hal. Semangat perjuangan Polri tidak berhenti di buku sejarah.

81 tahun setelah Proklamasi Polisi dikumandangkan, api itu terus diwariskan. Dari generasi Iptu Muhammad Jasin kepada generasi Bhayangkara 2026.

Tugasnya kini: menjaga stabilitas, melayani masyarakat, menegakkan hukum, dan memastikan Indonesia terus bergerak maju.

 

Laporan: Tim Redaksi

banner 325x300 banner 1600x450

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *