DATANG BERSIH – PULANG BERSIH: Dari Pesisir Kapoiala, Konawe Sultra Beri Contoh Wisata yang Angkat UMKM dan Layani Rakyat!

banner 120x600

KONAWE, DELIK ANTARA.COM – Dari ujung timur Indonesia, ada kabar baik. Kawasan pesisir Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, baru saja menggelar “Kemah Bakti Festival Wisata Bahari Bersahaja” 27–30 Agustus 2026 di Pantai Tombawatu–Tanjung Lalimbue.

Selama 4 hari, festival ini membuktikan satu hal: Wisata bisa mengangkat ekonomi, melayani rakyat, dan menjaga lingkungan sekaligus.

Pesan yang dibawa pulang peserta: “Datang Bersih – Pulang Bersih”.

Ini yang hari ini dibutuhkan Indonesia.

Festival dibuka Bupati Konawe di Tanjung Lalimbue. Tapi yang pertama dikunjungi bukan panggung, melainkan Bazar UMKM dan Pasar Pangan Murah.

Di sinilah pelaku usaha lokal dapat panggung. Produk olahan laut, kerajinan, hingga makanan khas Konawe dijual langsung ke ribuan pengunjung dan peserta.

“Ini bukti wisata tidak harus melupakan rakyat. Ekonomi harus jalan dari bawah,” ujar salah satu pelaku UMKM.

Yang membuat festival ini berbeda dan layak jadi contoh nasional: adanya pelayanan publik gratis di tengah pantai.

Selama festival, masyarakat bisa akses:

1. Administrasi Kependudukan

2. Pelayanan DTSN

3. Pelayanan KB & Kontrasepsi

4. Sunatan Massal

5. Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Tidak perlu ke kota. Negara datang ke pantai. Ini implementasi nyata “pelayanan dekat dengan rakyat” yang sering digaungkan pemerintah pusat.

Sejalan dengan arahan Presiden dan program “Ekonomi Biru” KKP, festival ini juga bergerak menjaga lingkungan.

Ada aksi bersih pantai di Tombawatu, Tanjung Lalimbue, hingga Batu Gong. Ada penanaman pohon. Ada sosialisasi kesiapsiagaan bencana untuk warga pesisir.

Puncaknya, semua ditutup dengan semangat: “Datang Bersih – Pulang Bersih”. Sampah dibawa pulang. Pantai tetap bersih.

Potensi laut tidak hanya dijaga, tapi juga dirayakan.

Penarikan Jala Ikan Secara Massal dan Festival Bakar Ikan di Tanjung Lalimbue menjadi magnet. Ini atraksi wisata berbasis kearifan lokal nelayan.

Ditambah Festival Layang-Layang, Lomba Tangkap Itik, dan olahraga bersama. Semua unsur: pemerintah, masyarakat, komunitas, turun.

Melalui Festival Wisata Bahari Bersahaja, Kapoiala menunjukkan:

Pesisir bukan hanya untuk dieksploitasi. Pesisir adalah ruang untuk bertumbuh bersama.

Tempat UMKM naik kelas.

Tempat rakyat dapat layanan.

Tempat alam dijaga.

LANDASAN HUKUM & KEBIJAKAN NASIONAL

1. UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan: Pengembangan wisata berkelanjutan berbasis masyarakat.

2. UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH: Kewajiban menjaga lingkungan.

3. UU No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan: Pemberdayaan ekonomi nelayan.

4. Perpres No. 18 Tahun 2020 RPJMN: Prioritas “Ekonomi Biru” dan Pengentasan Kemiskinan.

5. UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers: Media berperan mempromosikan potensi daerah.

Dengan Keberhasilan Festival Wisata Bahari Bersahaja ini adalah bukti nyata kepemimpinan yang hadir untuk rakyat.

Terima kasih kepada Bapak Bupati Konawe, Forkopimda, Ketua TP-PKK, Camat Kapoiala, Kepala Desa, serta seluruh panitia dan masyarakat yang telah bekerja dengan tulus.

Dari Kapoiala kita belajar: ketika pemimpin turun ke lapangan, ketika rakyat dilibatkan, maka wisata bisa menjadi jalan kesejahteraan.

Dirgahayu Konawe. Dirgahayu Indonesia.

“Dari Pesisir Kapoiala, Kita Jaga Laut, Kita Jaga Masa Depan”

 

Laporan: Aby Razak

banner 325x300 banner 1600x450

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *