banner 1600x458 banner 325x300 banner 1600x450

Viral Anak Cilik Jadi Penutur Tolea Pabitara, Bupati Konsel Bangga di Lomba Mombesara Pelajar!

Lomba Mombesara pelajar se-Konawe Selatan jadi momen pelestarian adat Tolaki. Anak-anak tampil sebagai Tolea Pabitara, Bupati Irham Kalenggo beri apresiasi.

banner 120x600
banner 468x60

KONAWE SELATAN, DELIK ANTARA.COM – Di balik semaraknya tarian tradisi Lulo yang memukau penonton, sebuah momen bersejarah terjadi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Dalam Lomba Mombesara Tingkat Pelajar Se-Kabupaten Konawe Selatan, prosesi adat budaya Suku Tolaki tampil lebih hidup karena dibawakan oleh generasi muda.

Yang menarik, yang membacakan dan menjalankan prosesi adat perkawinan Tolea Pabitara—gelar bagi sesepuh yang mahir berbahasa Tolaki—bukan para tetua, melainkan anak-anak cilik. Mereka tampil sebagai regenerasi penjaga bahasa dan adat Tolaki di tengah arus modernisasi.

Bupati Konawe Selatan Irham Kalenggo yang didampingi oleh Ketua DPRD Konawe Selatan Hamrin, hadir langsung malam itu menyampaikan kekagumannya.

“Malam ini saya menghadiri Lomba Mombesara Tingkat Pelajar Se-Kabupaten Konawe Selatan. Luar biasa, anak-anak kita mampu dan bisa melestarikan adat, terutama adat Suku Tolaki,” ujarnya.

Dalam prosesi Mombesara, Tolea Pabitara memiliki peran penting sebagai penutur adat yang menyampaikan pesan, doa, dan nilai-nilai perkawinan dalam bahasa Tolaki. Biasanya peran ini diemban oleh para sesepuh.

Namun dalam lomba ini, anak-anak pelajar tampil percaya diri membacakan prosesi dengan pengucapan dan kecepatan yang memukau juri dan penonton.

Hal ini dinilai sebagai langkah konkret pelestarian Kalosara—falsafah hidup Suku Tolaki yang mengajarkan harmoni, musyawarah, dan kearifan lokal.

“Semoga mereka terus menjaga nilai-nilai Kalosara itu sendiri. Pengucapan serta kecepatan dalam menyampaikan sangat luar biasa. Saya sangat bangga,” kata Bupati Irham Kalenggo.

Sebagai bentuk dukungan, Bupati memberikan apresiasi pribadi kepada para peserta. Meski nilainya tidak besar, ia menegaskan bahwa apresiasi tersebut adalah simbol penghormatan terhadap upaya anak-anak menjaga identitas budaya Tolaki.

“Dengan senang hati saya memberikan apresiasi walaupun tak besar nilainya, tetapi bentuk apresiasi secara pribadi,” ujarnya.

Mombesara: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Warisan Hidup

Mombesara adalah prosesi adat perkawinan Suku Tolaki yang sarat nilai filosofi. Melalui lomba tingkat pelajar, Pemkab Konsel berupaya memastikan nilai-nilai tersebut tidak punah, melainkan diwariskan secara hidup kepada generasi berikutnya.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa budaya bisa dipelajari dan dicintai sejak usia dini. Penampilan anak-anak sebagai Tolea Pabitara menjadi simbol harapan bahwa bahasa dan adat Tolaki akan terus hidup.

Berikut Analisis Interpretatif menurut Aby Razak: Budaya Hidup Jika Diwariskan

Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan seremoni. Ketika anak-anak dilibatkan langsung sebagai pelaku adat, maka nilai-nilai Kalosara tidak hanya dihafal, tetapi dihayati.

Kehadiran Bupati Irham Kalenggo di tengah kegiatan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan budaya sebagai pilar pembangunan karakter dan identitas daerah. Di era digital, regenerasi seperti ini menjadi benteng agar jati diri Tolaki tidak tergerus zaman.

DelikAntara.com menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 dan Pasal 3 tentang akurasi, keberimbangan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya masyarakat. Hak jawab dibuka 2×24 jam melalui redaksi@delikantara.com.

DelikAntara.com mengapresiasi upaya Pemkab Konawe Selatan dan para pelajar dalam menjaga warisan budaya Tolaki. Kami akan terus mengawal program pelestarian adat di Sultra.

Kirim dokumentasi dan cerita budaya dari daerah Anda ke redaksi@delikantara.com dengan subjek #BudayaSultra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *