KENDARI, DELIK ANTARA.COM – Peringatan keras dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG untuk seluruh masyarakat Sulawesi, khususnya Sulawesi Tenggara Sultra.
September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan Karhutla. Sulawesi termasuk wilayah yang diprediksi memiliki potensi pertumbuhan awan hujan yang rendah pada periode 6-13 September 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan, kondisi kering yang dominan dan pengaruh El Nino yang bertahan hingga awal 2027 membuat Sulawesi harus tetap waspada.
“Karena itu, periode September ini masih menjadi fase kritis yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama,” ujar Faisal dalam Rakor Penanggulangan Karhutla di Jakarta, Senin, (7/9/2026).
BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan hujan pada periode 6-13 September 2026 masih relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi.
Kondisi ini berarti peluang hujan alami untuk membantu pemadaman karhutla di Sultra dan Sulawesi masih terbatas. Hari Tanpa Hujan HTH juga semakin panjang di berbagai daerah akibat El Nino.
Hingga awal September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau. Hujan yang turun di sejumlah daerah umumnya masih bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.
Artinya, untuk wilayah Konawe, Kolaka, Bombana, dan seluruh daratan Sultra, potensi lahan kering dan vegetasi mudah terbakar sangat tinggi.
BMKG saat ini memberikan perhatian khusus terhadap Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Tengah, Selatan dan Timur yang sudah dipenuhi hotspot dan sebaran asap PM2.5.
Kondisi ini harus menjadi pelajaran berharga bagi Sultra agar tidak mengalami hal yang sama.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian sumber kebakaran harus dilakukan sedini mungkin,” tegas Faisal.
Selain itu, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemantauan hotspot dilakukan setiap hari dengan data satelit BMKG dan Kementerian Kehutanan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, “Kita harus bekerja lebih baik dibandingkan tahun 2015 agar luas kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan semaksimal mungkin.”
Sementara, Menko Polkam Djamari Chaniago menegaskan penanggulangan karhutla adalah tanggung jawab moral, profesi, dan hukum.
Untuk itu, DelikAntara.com mengimbau kepada masyarakat Sultra:
1. Jangan membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah Konawe, Konawe Utara dan Kolaka yang stok gabahnya sedang tinggi.
2. Pantau informasi resmi BMKG melalui kanal resmi untuk kualitas udara dan peringatan dini.
3. Laporkan segera jika melihat titik api kepada BPBD, TNI-Polri melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
4. Jaga lahan pertanian yang sudah kering akibat El Nino, jangan buang puntung rokok sembarangan.
BMKG bersama BNPB, pemerintah daerah, dan BUMN juga terus melakukan Operasi Modifikasi Cuaca OMC secara adaptif, namun pencegahan tetap menjadi kunci utama.
Dengan kondisi kering yang masih dominan, BMKG mengingatkan seluruh pihak di Sulawesi untuk tidak menurunkan kewaspadaan sepanjang September.
Laporan: Redaksi
#BMKGSultra #KarhutlaSultra #WaspadaKarhutla #Sultra #Sulawesi #ElNino2026 #DelikAntara















